Pemerintah Belum Berencana Rayakan Hari Tani Nasional

JAKARTA. Penetapan Hari Tani Nasional berdasarkan keputusan Presiden Soekarno tanggal 26 Agustus 1963 No. 169/1963 menandakan pentingnya peran dan posisi petani sebagai entitas bangsa.

Menurut Agus Ruli Ardiansyah, Ketua Departemen Politk Hukum dan Keamanan (Polhukam) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia, petani dan Hari Tani adalah ibarat petani dengan cangkulnya yang tak terpisahkan, karena setiap sektor masyarakat pastilah punya hari yang bersejarah dan ataupun hari raya nya tersendiri.

“Pada tanggal 24 september inilah harinya petani Indonesia, karena pada hari ini dibuat satu kebijakan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No.5 Tahun 1960 yang mengatur tentang hak-hak dan kewajiban kaum tani, mengatur hak atas tanah, hak atas sumber-sumber agraria untuk dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran petani dan bangsa, ” ungkap Rully.

Namun, Rully menegaskan pemerintah tidak pernah berniat merayakan Hari Tani, yang memperingatinya cuma BPN (Badan Pertanahan Nasional), itu pun dengan nama Hari Agraria, bukan Hari Tani Nasional. Hal ini berarti pemerintah tidak menghargai jasa kaum tani sebagai pemberi makan dunia dan penjaga kedaulatan pangan.

“Setiap kita melakukan aksi damai pada Hari Tani 24 September, Presiden selalu “kabur” keluar kota atau keluar negeri, dengan segala alasannya. Oleh karena itu dalam aksi bersama 24 September senin nanti, kami harap Presiden SBY beserta wakilnya Boediono berani menerima kami, bukan malah mengirim staf-staf khususnya. Di akhir masa pemerintahannya ini, tunjukkanlah kalau dia memang berpihak dan menghargai kami, kaum tani,” papar Rully dalam sebuah acara bincang-bincang di RRI yang juga dihadiri oleh Menteri Pertanian, Suswono, di Jakarta tadi malam (20/09).

Menanggapi hal ini, Menteri Pertanian Suswono menyampaikan bahwa pihaknya melihat Hari Tani Nasional dari sisi agrarianya.

“Kita melihat Hari Tani dari sisi agrarianya jadi yah nanti coba kita bahas lebih lanjut untuk memperingatinya, kalau kita sih bulan lalu sudah ada memperingati Hari Bakti. Mengenai Bapak Presiden, sepertinya beliau tidak bisa menemui pada 24 September nanti, soalnya beliau sudah ada jadwal ke Washington. Mungkin nanti kami usahakan berjumpa dengan Bapak Wakil Presiden, Boediono,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk memperingati Hari Tani Nasional ke-52, Senin nanti, 24 September 2012, Serikat Petani Indonesia (SPI) bersama puluhan organisasi massa petani, buruh, nelayan, miskin kota, mahasiswa, dan lainnya akan melakukan aksi damai yang dipusatkan di ibukota Indonesia, Jakarta, untuk kembali mendesak pemerintah melakukan pembaruan agraria sejati.

Selain di Jakarta, SPI juga mengorganisir aksi-aksi serupa di setiap wilayah di provinisi di seantero Indonesia.

 

Ada 1 komentar

  1. marhaen berkata:

    ..tetaplah berjuang..soko guru bangsa, penyedia logistik jaman perjuangan bapak..
    dunia akan kembali kepada “pangan “..bukan “IT”…