Tak Ada Pembaruan Agraria Tanpa Pendidikan Agraria dan Penguatan Organisasi

Pendidikan SPI

SUKABUMI.  Pengurus dan anggota Dewan Pengurus Cabang (DPC) Serikat Petani Indonesia Kabupaten Sukabumi  kembali melakukan pendidikan dan penguatan organisasi di lokasi tanah perjuangan seluas 600 Ha, bekas perkebunan PT. Sugimukti. Pendidikan pembaruan agraria, penataan lahan dan penguatan organisasi menjadi agenda utama dalam pertemuan yang dilakukan selama dua hari (13-14 Desember 2012).

Menurut Ketua Departemen Pendidikan Pemuda dan Kesenian Nasional Dewan Pengurus Pusat (DPP) SPI Syahroni, agenda utama dalam perjuangan pembaruan agraria tidak hanya memperjuangkan bagaimana mendapatkan sertifikat tanah.

“Yang cukup penting adalah mengelola pertanian yang sudah dikuasai menjadi pertanian yang berkelanjutan dan penataan lahan yang berbasis agroekologi,” tegasnya.

Pertemuan yang dilakukan di demplot DPC SPI Sukabumi di Kecamatan Warung Kiara ini, Syahroni juga menjelaskan strategi-strategi pengelolaan lahan mulai dari proses produksi hingga pada distribusi hasil pertanian.

“Hal ini bertujuan agar DPC SPI Sukabumi mandiri dalam menentukan harga produk pertanian sehingga harga tidak lagi dipermainkan oleh tengkulak. Hingga saat ini hasil panen singkong dan jagung harganya masih belum stabil hal ini dikarenakan selain permainan harga dari tengkulak juga adanya impor Singkong dari China dan Taiwan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Departemen Penguatan Organisasi DPP SPI Ali Fahmi menekankan bahwa penguatan organisasi, rapat-rapat anggota dan pendidikan lanjutan di tingkat basis yang dilakukan oleh pengurus DPC adalah kunci utama.

“Selain penataan lahan oleh anggota, penguatan organisasi yang kuat ditingkat DPC dan basis adalah kunci dari mewujudkan reforma agraria sejati”, tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua DPC SPI Sukabumi Imadudin. Dia menyampaikan pendidikan-pendidikan semacam ini menjadi penting untuk dilakukan karena akan memberikan pemahaman tentang mengelola lahan yang berkelanjutan terutama pasca panen.

“Di lahan seluas 600 Ha ini telah dikelola oleh 800 KK dan sebagian besar juga menanam singkong, jika harga terus-terusan tidak stabil maka kami petani selalu akan merugi,” ungkapnya.

ARTIKEL TERKAIT
Ekpansi Sawit Korporasi Miskinkan Buruh, Petani dan Menyebab...
Aksi Sepekan Peringati Hari Tani Nasional 24 September 2016:...
Skema REDD tidak menyelesaikan masalah perubahan iklim
Musyawarah Wilayah I DPW SPI Nusa Tenggara Timur Musyawarah Wilayah I DPW SPI Nusa Tenggara Timur
BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU