Tradisi Slametan (Wilujengan) dalam Masyarakat Agraris

Bagi masyarakat muslim Jawa, ritualitas sebagai wujud pengabdian dan ketulusan penyembahan kepada Allah, sebagian diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol ritual yang memiliki kandungan makna mendalam. Simbol-simbol ritual merupakan ekspresi atau pengejawantahan dari penghayatan dan pemahaman akan “realitas yang tak terjangkau” sehingga menjadi “yang sangat dekat”. Dengan simbol-simbol ritual tersebut, terasa bahwa Allah selalu hadir dan selalu terlibat, “menyatu” dalam dirinya. Simbol ritual dipahami sebagai perwujudan maksud bahwa dirinya sebagai manusia merupakan tajalli, atau juga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Tuhan. Sebagaimana diketahui, dalam tradisi Islam Jawa, setiap kali terjadi perubahan siklus kehidupan manusia, rata-rata mereka mengadakan ritual slametan, dengan memakai berbagai benda-benda makanan sebagai simbol penghayatannya atas hubungan diri dengan Allah.

Slametan sendiri berasal dari kata Slamet yang berarti selamat, bahagia, sentausa. Selamat dapat dimaknai sebagai keadaan lepas dari insiden-insiden yang tidak dikehendaki. Sehingga slametan bisa diartikan sebagai kegiatan-kegiatan masyarakat Jawa yang biasanya digambarkan sebagai tradisi ritual, baik upacara di rumah maupun di desa, bahkan memiliki skala yang lebih besar. Dengan demikian, slametan memiliki tujuan akan penegasan dan penguatan kembali tatanan kultur umum. Di samping itu juga untuk menahan kekuatan kekacauan (talak balak).

upacara wilujengan_spi_yogyakarta

Simbol-simbol ritual yang sering mereka gunakan dalam ritual slametan (wilujengan) antara lain :

1. Golong sejodo

Golong sejodo ini biasanya dibuat dari nasi putih yang berbentuk tumpeng atau seperti gunung yang berjumlah dua (sepasang). Arti dari tumpeng sendiri dalam masyarakat muslim Jawa sering disebut “metu dalan kang lempeng” yang diartikan bahwa manusia dalam kehidupannya didunia diwajibkan melalui jalan yang lurus (lempeng) dan juga jalan yang benar, seperti yang diajarkan oleh agama. Selain itu, tumpeng yang berbentuk seperti gunung juga merupakan gambaran dari bidang-bidang kehidupan manusia dan puncak dari tumpeng merupakan gambaran dari kekuasaan Tuhan yang bersifat transendental. Arti lain dari “golong sejodo” adalah mengingatkan kita bahwa Nabi Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah, dan merupakan cikal bakal manusia di Bumi ini.

2. Tumpeng Robyong

Tumpeng robyong merupakan tumpeng dari nasi putih yang pinggirnya dihiasi dengan daun-daunnan, antara lain daun dadap, daun turi, dan sebagainya. Tumpeng robyong sebagai gambaran kesuburan dan kesejahteraan. Tumbuh-tumbuhan ataupun sayur-sayuran yang dipakai untuk kebutuhan hajat atau slametan tersebut diharapkan akan segera tumbuh kembali.

3. Tumpeng Gepak

Tumpeng gepak merupakan pralambang dari “rojo koyo” yaitu hewan-hewan peliharaan dari orang yang sedang melaksanakan hajat tersebut, semoga hewan peliharaan tersebut dapat cepat beranak pinak, sehingga dapat dipergunakan untuk membantu kehidupan manusia.

4. Ambengan

Ambengan adalah nasi putih yang ditempatkan dalam wadah, wadahnya dapat berupa panci atau besek. Ambengan merupakan gambaran dari bumi (tanah) sebagai tempat hidup dan kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan baik itu manusia, hewan, tumbuhan, dan lainnya, yang harus dijaga kelestariaannya, karena itu merupakan unsur yang penting dalam kehidupan semua makhuk ciptaan Tuhan.

5. Ingkung

Ingkung adalah ayam yang dimasak secara utuh setelah dibersihkan bulu dan kotorannya. Dalam penyajiannya ayam diikat sehingga rapi, masyarakat jawa sering menyebutnya “diingkung” artinya ayamnya ditali. Ingkung sebagai perlambang dalam beribadah, masyarakat jawa sering memaknainya “manembaho ingkang linangkung” yang berarti manusia dalam beribadah kepada Allah SWT sebaiknya bersegeralah dan beribadahlah dengan khusuk, seakan engkau akan mati besok. Dengan makna tersebut manusia akan lebih khusuk lagi dalam beribadah kepada Tuhannya. Selain itu, makna dari ayam yang ditali tadi adalah mengambarkan bahwa manusia dalam kehidupannya sebaiknya mengendalikan nafsunya agar tidak berlebihan dan terlalu ambisius dalam berbagai bidang kehidupan

6. Jenang Palang

Jenang palang adalah nasi putih yang dicampur dengan gula merah dan diatasnya diberi daun pandan yang dipalangkan dan biasanya ditempatkan pada piring. Jenang palang merupakan penggambaran bahwa dengan slametan tersebut diharapkan akan menghalangi “komo sengkolo” atau gangguan dan mala petaka yang sudah ada maupun gangguan yang akan datang, baik itu gangguan dari manusia ataupun dari syetan.

7. Jenang Pliringan

Jenang pliringan merupakan pralambang dari “kakang kawah adhi ari-ari”. Hal ini terkait dengan ajaran mistik dalam masyarakat jawa bahwa setiap manusia memiliki empat saudara yang dikenal dengan sebutan “kakang kawah adhi ari-ari”. Sedangkan dua saudara yang lain adalah “rah” (darah) dan “puser” (tali pusar). Keempat saudara tersebut dalam konteks Jawa dihayati sebagai “sing ngemong awak” artinya yang menjaga dan memelihara manusia, karenanya harus dihormati, tidak disia-siakan, dan selalu “disapa” dalam setiap ritual slametan atau wilujengan.

8. Jenang Abang Putih

Jenang abang putih sebagai pralambang terjadinya manusia yang melalui benih dari ibu yang dilambangkan dengan jenang warna merah dan benih dari bapak yang dilambangkan dengan jenang warna putih. Jenang ini terbuat dari nasi putih, untuk warna merah dalam penyajiannya nasi putih dicampur dengan gula merah dan untuk yang satunya nasi disajikan secara utuh.

9. Jenang Baro-baro

Jenang baro-baro merupakan perlambang dari kehidupan mikrokosmos, artinya selain manusia yang hidup dibumi ini ada makhluk hidup lain yang diciptakan oleh Tuhan hidup berdampingan dengan manusia itu sendiri, yang keberadaannya sering terlupakan karena memang ukurannya yang tak dapat terlihat oleh mata secara sekilas yaitu hewan-hewan yang ukurannya serba kecil seperti misalnya semut, kutu, belalang, nyamuk, lalat, dan masih banyak lagi, yang kehidupan mereka juga mendukung kelangsungan ekosistem di bumi ini. Atas dasar itu, masyarakat jawa menyedekahi bangsa “kutu-kutu walang atogo” sebagai rasa kepedulian terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

10. Jajan Pasar

Jajan pasar sebagai perlambang dari sesrawungan atau hubungan kemanusiaan, silaturahmi antar manusia. Hal ini diasosiasikan bahwa pasar adalah tempat bermacam-macam barang, seperti dalam jajan pasar ada buah-buahan, makanan kecil, sekar setaman, rokok dan sebagainya. Dalam jajan pasar juga sering ada uang dalam bentuk “ratusan” yang dalam bahasa jawa  “satus”, yang merupakan simbol dari sat atau “asat” yang berarti habis dan “atus” yang berartibersih. Hal ini dapat diartikan bahwa manusia dalam beribadah kepada Allah untuk membersihkan diri dari dosa hendaknya dilakukan sampai benar-benar bersih sehingga ketika mereka kembali kepada Sang Pencipta dalam keadaan benar-benar bersih.

10. Dem-deman

Dem-deman merupakan lambang dari ketentraman, dengan diadakannya slametan diharapkan kehidupan manusia atau orang yang menyelenggarakan hajatan tersebut akan “adem ayem toto titi temtrem” yaitu tenang, tentram, dan damai tidak ada suatu halangan apapun dalam menghadapi kehidupan. Dem-deman ini terbuat dari daun “dadap srep” yang direndam air dalam wadah.

11. Telur, sebagai lambang dari “wiji dadi” atau benih terjadinya manusia.

12. Kecambah, simbol dari benih dan bakal manusia yang akan selalu tumbuh seperti kecambah.

13. Kacang Panjang, dalam kehidupan sehari-hari semestinya manusia selalu berpikir panjang (nalar kang mulur) dan jangan memikirkan pikiran yang picik, sehingga akan selalu dapat menanggapi segala hal dan keadaan dengan penuh kesadaran dan bijaksana.

14. Tomat, kesadaran akan menimbulkan perbuatan yang gemar “mad-sinamadan” dan berupaya menjadi “jalma limpat seprapat tamat”. Manusai dalam menjalani kehidupannya diharapkan dapat selalu cermat dalam berbagai bidang kehidupan dan diharapkan dapat selalu paham situasi yang sedang terjadi maupun kejadian yang sedang dihadapinya dan dapat mengikutinya.

15. Kangkung, manusia diharapkan termasuk sebagai manusia yang linangkung atau manusia yang mempunyai kelebihan dalam bidang apapun.

16. Apem dan  Kupat Lepet, dalam menyelenggarakan selamatan dan perbuatan yang dilakukan setiap hari tentunya tidak luput dari kesalahan (lepat), untuk itu semoga Allah SWT selalu memberikan ampunan segala kesalahan dan dosa-dosa yang telah diperbuat.

17. Pisang, yang dalam bahasa jawa disebut “gedang” merupakan pralambang dari etika kehidupan, diharapkan orang yang melakukan hajat tersebut ataupun manusia pada umumnya dapat mencontoh watak pisang yang dapat hidup dimana saja (ajur ajer), dapat menyesuaikan dengan lingkungannya. Disamping itu bagian dari tanaman pisang juga sangat banyak manfaatnya, mulai dari daunnya, batang pohon, buahnya sendiri dan masih banyak yang lainnya. Selain itu, pisang (gedang) sering juga dimaknai sebagai “gumreget nyuwun pepadang” artinya manusia dalam menjalani kehidupannya diharapkan selalu meminta petunjuk hanya kepada Allah SWT dalam keadaan atau situasi apapun.

18. Pembakaran kemenyan sebagai sarana “lantaran”, setelah semua “ubarampe” atau piranti slametan diijabkan atau dikemukakan maksud dan tujuan diadakannya slametan oleh sesepuh atau ulama setempat, biasanya ditutup dengan berdoa dan membakar kemenyan, hal ini dimaknai sebagai sarana terkabulnya doa-doa yang diinginkan. Pembakaran kemenyan dlam tradisi masyarakat jawa sering dimaknai sebagai “talining iman, urubing cahya kumara, kukuse ngambah swarga, ingkang nampi Dzat ingkang Maha Kuwaos”,  artinya bahwa slametan yang dilaksanakan tersebut diharapkan akan lebih meningkatkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bagi keluarga yang melaksanakan maupun bagi seluruh manusia pada umumnya. Selain  itu, niat dari slmetan atau tujuan diadakannya hajat itu digambarkan seperti “urubing cahya kumara” yaitu seperti api yang berkobar-kobar, berharap bahwa tujuannya segera tercapai, sedangkan asap (kukus) dari kemenyan dimaknai akan membawa doa-doa yang diijabkan terbang sampai ke surga dan dapat diridhoi dan dikabulkan oleh Allah SWT.

 

*Penulis adaah Ketua Badan Pelaksana Wilayah (BPW) Serikat Petani Indonesia (SPI) Yogyakarta

ARTIKEL TERKAIT
DPR: WTO Melemahkan Petani DPR: WTO Melemahkan Petani
Setengah Abad Pengingkaran UUPA, Setengah Abad Pemiskinan Petani Setengah Abad Pengingkaran UUPA, Setengah Abad Pemiskinan Pe...
Memerdekakan Kedaulatan Ekonomi
HUT SPI: Rapat umum petani di Desa Sembalun HUT SPI: Rapat umum petani di Desa Sembalun
6 KOMENTAR
  1. MT paijo berkata:

    Sangat bermanfaat utk masyarakat

  2. Adi berkata:

    Sangat berguna menjaga warisan leluhur,

  3. Suwiknyo berkata:

    Ingin brlajar ngujudne selamatan bayi usia 3 bulan

  4. Slamet raharjo berkata:

    Untuk selanjutnya saya kepingin belajar istilah ngujudaken slametan adat jawa, tinggalan leluhur,

  5. Wahyudi berkata:

    Sangat bermanfaat

  6. itu wujud syukur kepada Allah …tetapi harus hati-hati niatnya..

BERIKAN KOMENTAR ...

INFO TERBARU